PANTUN BUMI
Segala kayu yang aku kerat
Utuh diikat sambil diregang
Segala laku yang aku buat
Hanya buat kamu seorang
Siang hari kutunggu awan
Malam hari kutunggu bulan
Sekarang aku sama kamu temenan
Siapa tahu besok lusa kita pacaran
Pulang meladang menempuh gurun
Badik perang di tentang jua
Hari petang mentari turun
Kamu tersayang terkenang jua
Bibir merah karena gincu
Menguap sambil berlalu
Kamu tersenyum tersipu malu
Waktu aku bilang i lap u
Kota banten kota yang suci
Sedikitpun tak ternodai
Cinta aku sangat lah suci
Mengapa kamu mendua hati